• (021) 75791390
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Telusur : SLURRY ICE MACHINE Revolusi Industri Perikanan Indonesia


Image
Luasnya kawasan perairan Indonesia, panjangnya bentangan pantai, ribuan pulau yang bertebaran serta tersedianya kanal laut dalam, menyebabkan Indonesia memiliki aneka ragam jenis ikan hias dan konsumsi. Jutaan ton ditangkap ikan konsumsi, mulai dari ikan pantai, ikan karang dan ikan pelagis seperti tongkol, cakalang, dan tuna. Selain itu, aneka jenis udang, kerang, cumi dan gurita. Aneka produk perikanan di atas sangat bermanfaat bagi konsumen karena tinggi nilai gizinya dan enak rasanya dan bagi produsen menjadi potensi lapangan pekerjaan dan kesejahteraan ekonomi. Produk perikanan disajikan dalam empat kelompok besar: ikan olahan, proses, masakan, dan mentah. Ikan olahan, adalah ikan utuh yang diolah dengan teknik pengasapan atau fermentasi seperti ikan asap, pindang, atau peda. Ikan proses, adalah ikan yang dilakukan perubahan bentuk dan diproses, seperti petis, terasi, bakso, sosis, nugget dan surimi.
Ikan masakan, ini yang paling populer, yaitu ikan utuh atau bagian dari ikan yang dimasak oleh para juru masak dengan jutaan variasi selera bumbu yang dimasak di rumah, warung, rumah makan, restoran, kafe, katering dan industri siap saji. Seni penyajian ikan yang lain adalah menyajikan ikan untuk dikonsumsi dalam kondisi segar dan mentah dalam bentuk sashimi. Semua produk perikanan akan baik dan disukai konsumen jika disajikan dari bahan baku yang berkualitas, dalam kondisi hidup, segar, atau beku. Ikan adalah bahan pangan basah berprotein tinggi, akibatnya mudah rusak, harga turun drastis, dan sering kali dibuang. Menurut FAO 2015, ikan yang ditangkap rusak yang mengakibatkan penerimaan nelayan Indonesia turun hingga Rp. 30 trilyun setiap tahun, karena nelayan tidak mampu
menerapkan rantai dingin sejak penangkapan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan dan pemasaran. Problema ini diderita oleh ratusan ribu nelayan kecil dan puluhan ribu nelayan sedang yang tidak memiliki mesin pendingin sendiri dan sulit mendapatkan es balok dalam jumlah dan harga yang terjangkau. Apalagi di daerah terpencil, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan para pengumpul ikan dari nelayan pun mengalami kekurangan suplai sarana pendingin yang layak.
“Slurry Ice Machine”adalah mesin pengolah air laut menjadi bubur es inovasi anak bangsa untuk nelayan dan industri perikanan Indonesia. Didesain kerja sama antara PT Hikari Solusindo Sukses dan KEMENRISTEKDIKTI RI sejak 2017- 2019, dibawah bimbingan Peneliti Senior Pusat Sistem Audit Teknologi, Kedeputian Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, BPPT dan dukungan peneliti senior IPB. Sekarang ditawarkan dalam 8 varian dengan 4 kapasitas produksi 300; 600; 1.500; dan 3.000 Kg Bubur Es/24 jam, dapat dipakai menangkap ikan hingga 300; 600; 1.500; dan 3.000 Kg ikan/hari dan dioperasikan dengan listrik 3 phase atau motor penggerak berbahan bakar bensin, solar, atau gas. Dapat dipasang di atas perahu nelayan, kapal penampung dan pengangkut ikan, TPI, pedagang ikan/udang serta pabrik pengolah ikan/perikanan. Setelah memperhitungkan CAPEX&OPEX tenaga listrik industri, harga bubur es Rp. 350,-/Kg. Bagi nelayan, pedagang dan pelaku industri sangat menguntungkan karena kapasitas yang kecil, ongkos produksi yang murah, dapat dioperasikan di daerah terpencil meski tidak ada listrik, dan harga jual ikan menjadi meningkat. KEMENKOMARVES RI November 2020 mengundang PT Hikari Solusindo Sukses bersama KKP RI, perekayasa dan pelaku industri rantai dingin lainnya untuk menggunakan Slurry Ice Machine dalam rencana pengembangan Tuna Daily Fishing di Indonesia Timur. Prosesor dan eksportir melaporkan bahwa hanya 10-15% tuna nelayan yang layak diekspor. Sementara aplikasi Teknologi Slurry Ice diawal tahun 2000-an telah membawa revolusi sashimi di banyak perairan Jepang. Diharapkan, penerapan Teknologi Slury Ice dapat mengangkat perekonomian nelayan, ekonomi domestik, meningkatkan devisa sekaligus membangkitkan Revolusi Industri Perikanan Indonesia.

Tentang Penulis

Aprilia
Dr. Ir. Nur Mahmudi, M.Sc merupakan personil Pusat Sistem Audit Teknologi dengan kelompok keahlian bidang pangan. Beliau menempuh pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor, kemudian melanjutkan jenjang master dan Doktor di Texas A&M University di Amerika.

© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Pusat Sistem Audit Teknologi - BPPT