Print

Telusur : PLTN ANCAMAN APA BERKAH?


Image
Bagaimana keberadaan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) bagi umat manusia, apakah sebagai ancaman atau berkah?

Begitu dahsyatnya dampak ledakan bom atom pada akhir perang Dunia II bagi Jepang. Tanggal 6 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom uranium jenis bedil (Little Boy) di Hiroshima.  Tiga hari kemudian, pada tanggal 9 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom plutonium jenis implosi (Fat Man) di Nagasaki. Dalam kurun dua sampai empat bulan pertama setelah pengeboman terjadi, dampaknya menewaskan 90.000–146.000 orang di Hiroshima dan 39.000–80.000 di Nagasaki; kurang lebih separuh korban di setiap kota tewas pada hari pertama.

Sejak reaktor nuklir pertama dibangun pada 1952, reputasi buruk melekat pada PLTN sebagai ancaman hingga kini. Kengerian akibat radiasi nuklir, kesalah pahaman soal radiasi, hingga kegagapan memitigasi bencana membuat manfaat besar energi listrik dari PLTN bagi manusia dan bumi kurang diminati.

Berikut 5 insiden PLTN di dunia:

  1. 8 Oktober 1957, terjadi tragedi kecelakaan di reaktor nuklir Windscale Fire. Reaktor nuklir Windscale Fire, merupakan pabrik yang memproduksi plutonium di Cumberland, Inggris.
  2. 28 Maret 1979, PLTN di Three Mile Island, Amerika Serikat, mengalami kegagalan fungsi pendingin yang menyebabkan beberapa bagian inti pembangkit meleleh di salah satu reaktor.

29 September 1957, bencana mengejutkan terjadi Kyshtym, Rusia, salah satu bencana nuklir terparah di dunia. Bencana nuklir ini

itu membuat masa depan PLTN di Indonesia tidak semudah yang dibayangkan.

Alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi listrik lain di masa depan selain PLTN sedang dicari. Indonesia berencana membangun dan mengoperasikan PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) pada 2027-2028 mendatang.

PLTT adalah PLTN jenis baru. PLTT diharapkan mampu menghasilkan listrik dengan biaya lebih murah dan emisi karbon lebih rendah dari pada PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dengan batubaranya.

PLTT dengan reaktor generasi keempatnya yang ditawarkan akan dibangun di Indonesia merupakan reaktor larutan garam, juga diyakini lebih aman dari pada PLTN dengan uranium dan reaktor air tekanan tingginya. Kesediaan bahan bakar thorium di Indonesia juga dianggap berlimpah di beberapa daerah seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

 

menyebabkan 8.000 kematian langsung dan tidak langsung.
4. 26 April 1986 terjadi ledakan dahsyat di PLTN Chernobyl, Ukraina yang membuat sejumlah besar partikel radioaktif dilepaskan ke atmosfer
5. 5 Desember 2011 terjadi tragedi bocornya reaktor nuklir PLTN di Fukushima, Jepang, yang diakibatkan gempa.
 
Dari sejarah buruk insiden PLTN tersebut di atas, sampai saat ini untuk mewujudkan PLTN, Indonesia masih belum yakin 100 persen. Salah satu langkah yang menghalangi terwujudnya PLTN adalah ancaman atau ketakutan adanya bencana jika pembangkit nuklir mengalami kebocoran. Efek radiasi akibat kebocoran reaktor nuklir ditakutkan bisa menimbulkan kanker.
Dari semua PLTN yang beroperasi di Asia, 94 persennya ada di empat negara, yaitu Tiongkok, Jepang, Korea Selatan dan India. Uni Emirat Arab dan Bangladesh kini sedang membangun PLTN.
Tahun 2007, Vietnam menyetujui pembangunan PLTN yang diharapkan menjadi yang pertama di Asia Tenggara, tetapi batal pada tahun 2016. Sementara Indonesia memulai program PLTN di era Presiden Soekarno tahun 1960an, tetapi hingga 60 tahun kemudian, sebagian besar cita-cita memiliki PLTN tinggal mimpi.
Belum adanya keputusan apakah Indonesia jadi membangun PLTN bisa menempatkan Indonesia dalam posisi berbahaya atau kritis dalam penyediaan energi listrik. Seperti dikutip Kompas, 26 September 2018, Indonesia menjadi pengimpor minyak mentah sejak 2003, gas pada 2023, dan batubara pada 2049.
Bagi Indonesia, soal membangun dan mengoperasikan PLTN, kemampuan perekayasanya tidak perlu diragukan. Namun kemampuan mengelola dan menguasai keamanan PLTN, hingga memitigasi bencana menjadi pekerjaan rumah besar. PLTN tidak hanya soal bagaimana menguasai teknologi, tetapi juga kepercayaan, besarnya tantangan

Tentang Penulis

Amos Lukas
Ir. Sahlan, M.Sc. merupakan personil Pusat Sistem Audit Teknologi dengan kelompok keahlian bidang Teknik Material. Saat ini beliau memiliki jabatan fungsional sebagai Peneliti Utama dengan fokus riset Bidang Material Energi Terbarukan dan Material Permesinan Garam. Beliau aktif mempublikasikan kegiatan penelitian dan kajian dalam bentuk buku maupun paper.