• (021) 75791390
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Laporan Akhir Kajian Total Factor Productivity Teknologi Charging Kendaraan Listrik

 

Tim kajian perhitungan Total Factor Productivity teknologi charging station selama tahun 2020 telah melakukan perhitungan dan kajian dengan mengeluarkan beberapa output berupa hasil telaah koordinasi dengan flagship, penyampaian hasil ke institusi terkait serta dalam bentuk laporan kegiatan. Kegiatan Analisis Total Factor Productivity merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka menganalisis nilai Total Factor Productiity (TFP) kegiatan prioritas yang dilakukan oleh BPPT. Kegiatan ini berlangsumg selama multi years, namun pada laporan ini hanya mencakup kegiatan 2020.

Program Inovasi Teknologi Sistem Charging Station Kendaraan Listrik merupakan kegiatan lintas unit di BPPT dengan berbagai kegiatan, dari mulai pengembangan teknologi fast charging, manajemen system informasi, energy storage, laboratorium pengujian dan uji kendaraan listrik, infrastruktur kelistrikan serta kajian ekonomi dan regulasi. Kajian ekonomi dan regulasi, salah satunya dilakukan oleh Pusat Sistem Audit Teknologi (PSAT) melalui kegiatan Total Factor Productivity (TFP) Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik dan kegiatan Kajian Tekno-ekonomi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik. Kedua kajian tersebut juga merupakan bagian dari Program yang ada di PSAT, yaitu TFP Program Prioritas 2020.

Hasil kegiatan Total Factor Productivity (TFP) dan Kajian Tekno-ekonomi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik merupakan output yang diharapkan dari kegiatan yang ada di PSAT tahun 2020. Selain itu, dalam kegiatan TFP Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik juga dilakukan analisis mengenai tingkat kesiapan teknologi (TKT) atau technology readiness level (TRL) dari inovasi dan pengembangan teknologi yang dilakukan oleh BPPT. TFP merupakan perangkat yang digunakan dalam menghitung kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam kajian ini, TFP digunakan untuk menghitung besarnya kontribusi teknologi yang dihasilkan oleh lembaga litbangjirap (BPPT) dalam menghasilkan output yang berupa produk pengembangan teknologi stasiun pengisian kendaraan listrik.

TKT juga merupakan perangkat yang digunakan untuk mengukur kesiapan suatu produk teknologi hasil inovasi dan litbangjirap ketika akan dimanfaatkan oleh pengguna. Apakah teknologi yang dikembangkan sudah teruji kinerja teknisnya, kesiapan produksi dan manufakturnya serta ketersediaan pasarnya. Kesiapan teknologi ini juga berkaitan dengan risiko yang harus diantisiapsi oleh penggunanya. Sementara itu, kajian tekno-ekonomi terutama berkaitan dengan kajian mengenai kesiapan dan kelayakan finansial ketika akan membangun stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di berbagai tempat. Kesiapan ini mempertimbangkan jumlah dan sebaran kendaraan listrik yang membutuhkan SPKLU. Kelayakan menghitung jumlah SPKLU yang sebaiknya dibangun dalam jangka waktu tertentu, besarnya investasi dan besarnya margin yang akan diperoleh dalam pembangunan SPKLU tersebut.

TFP Litbangjirap

Nilai TFP untuk litabngjirap pada angka 0,3 dianggap relatif baik yang karena investasi akan memberikan impact dalam kurun waktu 3 tahun menyamai dengan investasi yang dikeluarkan.  Dari pertumbuhan output yang dihasilkan kontribusi teknologi (pertumbuhan TFP) rata-rata adalah sebesar 10,97%, dengan kontribusi terhadap output sebesar 38,85%. Pertumbuhan TFP nasional sebesar 0,78% dari pertumbuhan ekonomi 5,28% atau kontribusi 14,77% (sumber: hasil perhitungan 2010-2019). Dari hasil tersebut terlihat bahwa Kontribusi pertumbuhan TFP terhadap output lebih besar dari kontribusi pertumbuhan TFP nasional juga terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan TFP secara nasional kotribusinya lebih besar dari 60% dapat digolongkan sebagai negara maju karena pertumbuhan tercipta akibat kontribusi teknologi (inovasi). Perhitungan faktor produksi Charging Station tersebut dilakukan dengan asumsi nilai Kapitaltanah tidak dimasukkan, karena kenaikan kapital tanah tidak digunakan untuk meningkatkan produksi dan juga merupakan aset negara (BPPT). 

TFP Industri

Industri stasiun pengisian baterai kendaraan listrik umum (SPKLU) dan stasiun pengisian baterai cepat (fast charging), terdiri dari industri yang memproduksi SPKLU termasuk komponen penyusunnya, dan industri pengelola operasi SPKLU. Industri yang memproduksi SPKLU sampai saat ini belum berkembang, dan masih tergantung secara utuh terhadap impor. Untuk industri ini yang memiliki potensi yang cukup besar dan telah memiliki pengalaman membangun SPKLU adalah PT. LEN. Sementara itu industri pengelola SPKLU relatif sudah cukup mapan, yaitu PT PLN dan mitra pengelolaannya serta PT Pertamina. Kedua perusahaan tersebut memiliki potensi dan kemampuan untuk membangun dan mengoperasikan SPKLU.

Tingkat Kesiapan Teknologi

Charging Station Management System (CSMS) merupakan sistem manajemen untuk mendukung pengoperasian SPKLU. Ada empat hal penting dalam kegiatan CSMS yaitu: optimasi sistem back-end, optimasi sistem front end, pengembangan open change point protocol dan pola penempatan charging station. Berdasarkan data informasi hasil
litbang, analisis kondisi output dan aktivitas pengujian yang telah dilakukan, diskusi klarifikasi dan konfirmasi bukti atau evidence yang disampaikan, nilai TKT CSMS adalah 4. Beberapa aktivitas dan tahapan di TKT 5 sebagian sudah dan mulai dilakukan.

Selain perhitungan TKT CSMS, integrasi SPKLU terdiri dari sub-komponen hardware dan software.  Penilaian TRL juga dilakukan terhadap prototipe yang sudah dibuat dengan proses integrasi modular (komponen atau part). Spesifikasi Prototipe Charging Station jenis AC 3 fase dengan kapasitas 22 kW; arus 32 Ampere, dilengkapi dengan komunikasi OCPP. Berdasarkan kondisi dan pengujian prototipe, hasil analisis TKT produk integrasi AC Charging Station 22 kW menunjukkan bahwa capaian TKT 4. Pengujian lanjutan terhadap kinerja fungsi akan dilakukan terhadap proses charging KBL uji, untuk mendapatkan respon sistem terhadap berbagai perubahan kondisi dan parameter yang berpengaruh terhadap kinerja charging station.

Kajian Tekno Ekonomi

Dari analisis kelayakan ekonomi dapat dibuat peta jalan (road map) jumlah EV/KBL atau pertumbuhan EV/KBL yang dapat diimplementasikan oleh industri CS/SPKLU agar dapat tumbuh secara berkelanjutan. Penurunan biaya investasi melalui penurunan harga jual SPKLU dan atau penurunan biaya operasional melalui pemberian subsidi biaya listrik dapat dilakukan untuk mempertahankan kelayakan ekonomi. Kebijakan-kebijakan yang dapat diambil jika jumlah awal EV/KBL cukup rendah adalah kebijakan yang bersifat regulasi, insentif, penyediaan infrastruktur dan perluasan pengaruh.

Saran

1.Bappenas/BRIN dapat berperan dalam mendorong percepatan penguasaan teknologi untuk pengembangan kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya, termasuk teknologi pengisian baterai/fast charging. Insentif dari Bappenas/ BRIN dapat berupa insentif untuk menghasilkan output teknologi yang siap untuk diterapkan; dengan penyediaan anggaran dan insentif aktivitas litbangjirap, mendorong kolaborasi lembaga litbangjirap dan industri, acuan roadmap kolaboratif dengan industri dalam negeri yang sinkron dengan roadmap pengembangan kendaraan listrik (jangka menengah & jangka panjang).
2.Dalam percepatan penerapan kendaraan listrik, diharapkan industri dalam negeri dapat berkontribusi dengan memanfaatkan hasil litbangjirap yang dilakukan Lembaga litbangjirap sehingga memberikan peluang produksi kepada industri dalam negeri. Jika kebijakan pengembangan tergantung atau hanya mengandalkan impor (dalam bentuk utuh/CBU/built-up), industri dalam negeri hanya menjadi penonton dan nilai tambah akan dinikmati oleh negara lain.
3.Mempertimbangkan instrument kebijakan berupa pemberian insentif bagi industri KBL/EV melalui revisi peraturan permen ESDM tentang tarif curah dan bentuk subsidi listrik lainnya, memberlakukan regulasi bagi pembelian EV/KBL melalui permendagri, perda& LKPP, menyediakan infrastruktur bagi pemakaian KBL/EV melalui permenperin, permendagri serta permenhub dan mempengaruhi konsumen akan pentingnya mengurangi emisi GRK melalui pemerintah, akademisi, komunitas dan berbagai platform media sosial.
4.Menurunkan biaya CAPEX investasi FCS dengan menurunkan harga jual SPKLU per unit yang diupayakan dengan peningkatan TKDN


© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Pusat Sistem Audit Teknologi - BPPT