Print

Laporan Akhir Kajian Total Factor Productivity Inovasi Teknologi Produksi Bahan Baku Obat

Tim kajian perhitungan Total Factor Productivity inovasi teknologi produksi bahan baku obat selama tahun 2020 telah melakukan perhitungan dan kajian dengan mengeluarkan beberapa output berupa hasil telaah koordinasi dengan flagship, penyampaian hasil ke institusi terkait serta dalam bentuk laporan kegiatan. Kegiatan Analisis Total Factor Productivity merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka menganalisis nilai Total Factor Productiity (TFP) kegiatan prioritas yang dilakukan oleh BPPT. Kegiatan ini berlangsumg selama multi years, namun pada laporan ini hanya mencakup kegiatan 2020.

Total Factor Productivity merupakan parameter yang digunakan dalam mengukur produktivitas dan kontribusi faktor selain modal dan tenaga kerja, oleh sebab itu parameter TFP sering digunakan sebagai indikator kontribusi teknologi terhadap output yang dihasilkan, dimana dalam lingkup yang luas dapat dijadikan indikator peran teknologi dalam perekonomian nasional. Namun demikian, penggunaan parameter TFP belum baku, tetapi secara umum yang telah banyak digunakan adalah parameter yang menggambarkan ratio antara output terhadap faktor-faktor produksinya (TFP ratio) dan parameter yang menggambarkan kontribusi pertumbuhan output (atau pertumbuhan ekonomi) yang disumbangkan oleh selain pertumbuhan modal (kapital) dan pertumbuhan tenaga kerja (labour) dan pertumbuhan output yang bukan disumbangkan oleh modal atau tenaga kerja sering dikaitkan oleh pertumbuhan akibat perubahan teknologi.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki peran utama dalam melakukan kaji dan terap teknologi, dalam penerapan dan pengkajian bahan baku obat Amoksisilin dan ketersediaan farmasi. Langkah awal positif untuk menuju hilirisasi hasil-hasil riset produksi antibiotik, amoksisilin yang sudah cukup lama dikembangkan oleh BPPT dan stakeholder terkait. Hal ini dilakukan dalam upaya membangun industri BBO dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.Sebagai salah satu institusi litbang di dalam negeri, BPPT memiliki peran utama dalam melakukan kaji dan terap teknologi. Keterlibatan BPPT dalam pembangunan industri bahan baku obat amoksisilin ini merupakan perwujudan peran BPPT untuk memberikan solusi permasalahan teknologi nasional.

Dalam instruksi presiden nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Oleh karena itu, BPPT berkomitmen kuat untuk berperan aktif melakukan percepatan pengembangan industri bahan baku obat dalam negeri untuk mengurangi impor. Pengembangan teknologi produksi Amoksisilin oleh BPPT dilandasi keprihatinan bahwa 95% bahan baku obat yang diperlukan masih harus impor, dimana Amoksisilin adalah salah satunya (1.200 ton/tahun). Produk Amoksisilin ini banyak digunakan di Indonesia untuk pengobatan lini utama pada infeksi bakteri gram positif dan gram negative yang hingga saat ini di Indonesia masih cukup tinggi.Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan kemandirian bahan baku obat amoksisilin, beberapa lembaga membentuk konsorsium. Sesuai dengan program PRN 2020-2024, konsorsium BBO Amoksisilin yang ini diketuai oleh LIPI, dengan anggota Badan Pengkajian Penerapan Teknologi, Kementerian Perindustrian, Institut Teknologi Bandung serta Universitas Gajah Mada.

Dari hasil perhitungan TFP BBO Amoksisilin yang dilakukan baik dalam bentuk TFP ratio, Pertumbuhan TFP atau Kontribusi Pertumbuhan TFP terhadap Pertumbuhan Output dapat disimpulkan nilai TFP (ratio) Litbangjirap antara 0,69 – 0,7 dimana nilai ini lebih besar dari nilai rata-rata TFP ratio sektor Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional yang nilainya 0,39 namun nilainya lebih rendah dari TFP nasional secara keseluruhan. Jika dilihat pertumbuhan TFP, kontribusi pertumbuhan TFP sektor Farmasi Produk Obat Kimia dan Obat tradisional (67,97) jauh lebih besar dari rata2 nasional (6%), hal ini menunjukkan sektor ini mengalami pertumbuhan yang tinggi yang dipengaruhi oleh pertumbuhan TFP namun masih tertinggal dalam efisiensi (teknologi) proses produksinya. Untuk litbangjirap dan mitra industri, nilai TFP growth belum bisa dihitung.

Pertumbuhan output dan pertumbuhan TFP untuk BBO secara umum atau amoksisilin khususnya cukup besar, lebih besar dari pertumbuha rata-rata output nasional atau pertumbuhan TFP nasional sehingga hal ini diharapkan mampu perperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Namn demikian nilai TFP ratio baik untuk sektor BBO masih lebih rendah dari rata-rata TFP ratio nasional dimana hal ini menunjukkan efisiensi atau produktivitas masih rendah, dan hal ini membutuhkan dorongan dari pemerintah dalam hal 1) Insentif riset dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas 2) Efisiensi dalam proses produksi dan keterkaitannya dengan rantai pasok 3) Menyiapkan pasar dalam negeri dan pasar ekspor.

 

, ,